The best Cerpen

Cerpen Terbaru : Sebatang Ranji di Tepi Sungai

Mereka menyandarkan tubuhnya di pagar sungai. Menatap aliran airnya yang perlahan dan kehitaman. Di sekitarnya, gedung-gedung tinggi menjulang menghimpit matahari senja yang bersinar kemerahan. Sebagian cahayanya memantul di antara tumpukan sampah yang berputar dan mengendap. Mereka menikmati matahari yang perlahan-lahan meredup. Berganti dengan lampu-lampu yang sebagian tertata rapi, dan sebagiannya lagi berserakan. Suasana itu mengingatkannya pada lanskap enam puluhan tahun lalu. Di tepi sungai ini, mereka biasa menunggu malam di bawah sebatang asam ranji tua sambil memainkan harmonika. Mereka sangat menikmatinya, saat kunang-kunang mulai beterbangan dari satu perdu ke perdu lain. Bersaing dengan bintang-bintang yang bermunculan. Tak ada bunyi jangkrik lagi di kampung ini ––yang kini menjadi kota. Apalagi lenguh kerbau dan bising anak-anak pergi ke surau.

Hasan dan Frans, mereka kembali bertemu dua hari yang lalu. Setelah lebih enam puluh tahun menjalani takdir masing-masing. Pertemuan yang direncanakan, setelah pertemuan sebelumnya karena ketidaksengajaan. Sebulan lalu, Hasan baru saja diundang Greenpeace ke kantor pusatnya di Amsterdam. Ia menerima penghargaan dari organisasi lingkungan internasional itu, sebagai orang yang hampir seumur hidupnya menjaga kelestarian lingkungan. Memelihara kelestarian hutan dan cadangan air di kampungnya, yang semakin lama semakin menipis. Sebab di lereng gunung, di kampungnya, vila-vila terus bermunculan. Berdiri angkuh setelah merobohkan pohon-pohon dan tebing. Usaha yang oleh orang kebanyakan dianggap sis-sia, itulah yang kemudian dihargai.

Hasan bertemu kembali dengan Frans, saat jalan-jalan menyusuri taman kota Amsterdam suatu sore, di hari terakhir kunjungannya ke kota itu. Dua lelaki tua, duduk berhadap-hadapan di bangku yang berbeda. Satunya memegang tongkat dari logam ringan, satunya lagi menyandarkan punggung rentanya di bangku taman. Tak ada percakapan, Hasan hanya menajamkan pandangan ke arah lelaki tua di depannya. Hampir setengah jam berpikir, sebelum memutuskan untuk menyapa.

“Kau itu Frans?” Ia mulai bicara. Enam puluh tahun lebih bukan waktu yang baik untuk menyimpan ingatan.

“Benarkah itu kau?” Ia kembali menegaskan.

Lelaki di depannya, yang kelihatan lebih tua, masih diam dan heran. Dia melepas kacamata tebalnya, lalu memasangnya lagi, berkali-kali. Alat bantu dengar yang menempel di telinganya dia sempurnakan letaknya.

“Frans?”

“Who are you?” dia menurunkan posisi kaca matanya.

“Hasan! Hasan Bin Makmun...”

Tapi dia masih heran dengan orang yang menyapanya dengan bahasa Indonesia. Sebab puluhan tahun dia tidak menggunakan bahasa itu. Tapi dia masih mengingatnya, meskipun kosa kata yang dihapalnya sudah banyak yang luruh, seiring dengan renta usianya.

“Siapa kamu?” dia memastikan.

“Hasan! Sungai Ciliwung...”

Dia masih berpikir. “Hasan, sungai Ciliwung... Sungai Ciliwung... Hmm...”

“Batavia! Jakarta! Indonesia! Harmonika! Ya, harmonika di sungai Ciliwung...” Hasan diam sejenak sambil memikirkan kata-kata yang tepat untuk membantu ingatan lelaki tua itu.

“Asam ranji...!” Dia tahu lelaki tua di depannya menyukai pohon besar yang dulu sering didatanginya, setiap senja, sambil memainkan harmonika.

Lelaki yang dipanggil Frans mengangguk-angguk.

“Ya, ya... I ingat, ingat... Asam ranji di Hindia, Indonesia...”

Dia tersenyum.

“Hasan cowboy.... Ya? Eh, penggembala itu bull, ker-ker-kerbau... He-he-he...” Dia terkekeh, memperlihatkan barisan gusinya yang tanpa gigi.

“Iya, Hasan gembala kerbau... Ternyata kau masih ingat, Frans?”

Kemudian mereka berpelukan, lama sekali, sambil meneteskan sisa air mata yang mengalir dari mata mereka yang telah dikerumuni kerak katarak. Sore di Amsterdam itu, kemudian menjadi cerita panjang. Sampai hampir tengah malam mereka bernostalgia tentang masa lalu. Kemudian Hasan mengundang Frans berkunjung ke Indonesia, setelah berpuluh-puluh tahun.

***

Mereka duduk-duduk di bawah sebatang asam ranji. Di sebelahnya sungai yang tak begitu luas mengalir jernih dan kehijauan. Banyak ganggang dan lumut tumbuh di dasarnya. Beberapa sampan lalu lalang membawa penumpang. Di sanalah mereka hampir setiap senja duduk di bawah rindangnya pohon, menghadap ke sungai sambil meniup harmonika. Sebab di antara sampan-sampan itu, selalu ada noni-noni Belanda yang cantik dan amoy-amoy bermata lembut yang menumpang. Menghabiskan waktu sore menyusuri sungai yang jernih, sambil memandang keindahan matahari senja yang kemerahan.

Dua remaja itu, Frans dan Hasan––tentunya setelah Hasan meninggalkan kerbau-kerbaunya di lapangan rumput yang tidak jauh dari sungai–– menyukai pemandangan itu. Gadis-gadis cantik di atas sampan, berkulit lembut dan bibir kemerahan. Senja menjadi sangat romantis, meskipun mereka sama sekali tidak berani menyapa gadis-gadis itu. Hanya suara harmonikanya saja yang kadang menggoda. Balasannya cukup dengan senyuman. Sederhana bukan?

Frans beribu Manado dan bapaknya perantau Belanda yang menjadi pegawai rendahan di perkebunan milik pemerintah Hindia Belanda. Namun setelah Indonesia dikuasai Jepang, kemudian keluarganya pulang ke Belanda. Hampir setahun mereka berkawan, sebab Frans yang Indo tidak berkawan dengan para pemuda Eropa. Dia sering menyendiri di dekat asam ranji. Kemudian bertemu Hasan, si penggembala yang sering menunggu kerbau-kerbaunya merumput di tempat sama. Frans mengajarinya bermain harmonika dengan irama-irama sederhana.

“Sungai ini sangat indah. Alirannya selembut rambut gadis-gadis itu.” Frans bergumam sambil membolak-balik kumpulan sajak William Butler Yeats, pemenang Nobel 1923 yang sajak-sajaknya dinilai inspiratif dan kebesaran bentuk artistiknya menghidupkan daya hidup semua bangsa. Buku yang dicetak stensilan dengan huruf-huruf kabur tersebut sering dibawanya bergantian dengan syair puitis Rabindranath Tagore dan puisi kritis T.S. Eliot.

“Begitu berartikah sungai, bagimu?”

“Iya, sungai sumber kehidupan semua mahluk di sekitarnya. Sumber keindahan kita juga bukan?”

“Benarkah?” kata Hasan sambil terus memainkan harmonikanya.

“Bayangkan jika sungai ini kotor! Mana mau gadis-gadis di sampan itu bermain di atasnya. Tempat yang indah selalu mendatangkan keindahan...”

“Dari mana kamu dapat kata-kata itu?”

“Ini! Kalau kamu ingin memaknai keindahan, baca ini...” Dia menyodorkan sebuah buku puisi lusuh.

“Aku tidak bisa membaca. Nantilah kamu ajari... Sementara, aku memaknainya dengan lagu-lagu.”

Frans tersenyum. Dilemparkannya sebuah kerikil kecil ke tepi sungai. Plung!

Hasan masih meniup mainan barunya. Sejak itu mereka sering menghabiskan senja bersama-sama. Di tepi sungai di bawah asam ranji, bermain harmonika, memandang gadis-gadis cantik di atas sampan yang hilir mudik dari hulu ke hilir. Tanpa berani menggodanya. Hanya irama harmonika dan tatapan mata yang seolah bicara.

***

Hasan kembali ke kampungnya, di kaki Gunung Pangrango. Puluhan tahun hidup di sana, beristri, beranak cucu. Sungai telah mengajarkan banyak hal, tentang kehidupan dan persahabatan. Dia tahu, sungai-sungai banyak yang berhulu di perut gunung. “Tempat yang indah selalu mendatangkan keindahan.” Dia ingat kata-kata itu, dari Frans, teman masa remajanya yang telah pulang ke negara bapaknya.

“Percuma kerjaan kau, San!” kata sebagian orang-orang kampungnya.

“Buang-buang tenaga. Lebih baik kau cari makan buat anak binimu!”

Mereka mengejek Hasan, ketika dia menanami tanaman keras di beberapa tanah tandus di lereng gunung. Namun dia tak patah arang. Bertahun-tahun kemudian tumbuhan itu tumbuh dengan subur. Lereng gunung pun semakin indah, setiap pagi dan senja selalu diselimuti halimun. Hijaunya pegunungan menjadi sumber air bagi sungai-sungai di bawahnya. Hasan melakukan itu, sampai usianya menua. Meskipun dia harus sering bertengkar dengan orang-orang yang lebih suka membabat pepohonan.

Hasan kembali menanaminya, ketika sebagian habis ditebang. Juga ketika sebagian tanah kampung di lereng-lereng gunung itu mulai dijual kepada orang-orang kota. Lalu rumah-rumah persinggahan, vila-vila mewah tumbuh menggantikan pepohonan. Benar kata Frans, pikirnya. Tempat yang indah selalu mendatangkan keindahan. Dulu, keindahan masih alami dengan pepohonan yang menghijau sepanjang lereng gunung yang sebenarnya rawan longsor. Tapi kemudian keindahan berganti, menjadi vila-vila mewah. Keindahan yang kemudian sering mendatangkan bencana.

Tapi Hasan tidak peduli, setidaknya lingkungan sekitar rumahnya masih hijau. Dia selalu menanam, ketika orang-orang kampung lainnya sibuk menebang dan menjual. Maka di antara lereng pegunungan yang meranggas itu, masih ada sisa hutan yang menghijau. Masih mendatangkan keindahan setiap pagi dan petang, saat halimun datang. Dia masih percaya, sebatang pohon masih menyediakan setetes air ke sungai yang mengalir ke hilir. Seperti sebatang pohon asam ranji yang mendatangkan keindahan di masa lalu.

***

“Inilah sungai kita dulu, Frans,” kata Hasan sambil menepuk pundaknya yang ringkih.

“Sungguh tragis nasibnya. Tak ada lagi gadis-gadis bersampan. Kini hanya sampah dan limbah industri yang mengikuti arusnya yang kehitaman. Tak ada lagi aroma minyak wangi dari gadis-gadis Belanda dan Tionghoa itu. Tak ada lagi keindahan. Semuanya berubah menjadi aroma kematian,” Frans bergumam lirih.

“Benar katamu. Setiap musim hujan selalu banjir, entah sudah menelan berapa banyak korban. Sebab beton-beton itu menghambat resapan air. Belum lagi sampah dan limbah.” Hasan menerawang jauh ke kampungnya.

“Sementara di hulu, di lereng gunung, di kampungku pepohonan nyaris habis ditebang. Dijadikan vila-vila milik orang kota juga. Itulah kondisi sekarang Frans, kebijakan pemerintah negeri ini jarang yang memihak alam. Selalu uang dan uang!” kata Hasan kesal.

“Lalu, di mana asam ranji itu?” Frans ingat pohon tua yang dulu selalu mereka datangi setiap senja.

“Kira-kira di situ!” Hasan menunjuk sebuah rumah susun sederhana yang berdiri tepat di tepi sungai. Dari atas, salah seorang penghuninya terlihat melemparkan bungkusan plastik hitam ke sungai. Blung!

Frans tersenyum sinis. Tongkatnya dia hentak-hentakkan ke besi pagar sungai, hingga menimbulkan suara berdenting. Dia memandang sekitar sungai yang terlihat surut dan hitam.

“Selalu banjir, katamu?”

“Ya, begitulah... Kota ini drainasenya buruk, buruk sekali. Sementara di hulu, di lereng gunung itu, pepohonan yang menjadi sumber cadangan air dan resapan air selalu berkurang. Kalau hujan Frans, dan di hulu memang sering hujan. Air langsung menderas ke sini, ke kota ini. Banjir, dan itu bisa beberapa kali setahun.”

Frans manggut-manggut. “Tapi setidaknya kau sudah berusaha menjaganya kan?”

“Itu tidak cukup berarti. Sebab yang merusak jauh lebih banyak!”

Lalu Hasan melemparkan lima biji asam ranji ke sungai.

“Siapa tahu masih mau tumbuh,” katanya sambil tersenyum.

Kemudian mereka menyusuri tepi sungai itu sejauh beberapa puluh meter, sebelum kembali ke hotel tempat Frans menginap. Malam semakin larut, dua lelaki tua itu juga larut dalam cerita masing-masing, tentang takdir masing-masing. Tak ada lagi suara merdu harmonika, selain lagu-lagu dari kafe-kafe liar di tepi sungai. Berbaur dengan lampu warna-warni, yang di masa lalu masih berupa kunang-kunang di rerumputan dan reranting pepohonan. Arus sungai tetap hitam, sampai langkah kaki mereka hilang di tikungan.***


Read More..
 
Gudang Cerpen Terbaik, Terbaru & Terlaris

Pipa Air Mata

Selalu ada air mata. Di setiap langkah menyusuri jalan berbatu itu, menembus pekat belukar, menuju bekas kampungnya. Kadang telapak kaki membentur kerikil-kerikil tajam berserakan, besi-besi tua, kaleng-kaleng rombeng dan belulang binatang rimba. Matanya menatap nanar pada cahaya kunang-kunang yang bertebaran di tepi jalan. Menikung, menanjak dan menurun, searah pipa baja sebesar pohon kelapa. Pipa hitam yang puluhan tahun lalu menancapkan luka di jantungnya, di kampungnya.

Masih ada kenangan dalam benaknya, terlampau membara untuk dilupakan. Bulan sabit yang diselimuti awan gelap menambah kelam ingatan tentang kampung halaman, gubuk-gubuk kayu, orang-orang lugu. “Masih adakah lubuk hijau itu?” Ia mencoba mengingat sebuah danau yang airnya selalu hijau. Dulu, di masa kecil, ia biasa menombak ikan di sana. Bermain sampan sampai ke tengah, memunguti lumut dan teratai hutan.

Desah nafasnya bersahutan dengan suara serangga hutan, desis ular, kicau burung malam, pekikan siamang. Tapi ia tidak takut, atau langkahnya surut. “Bukankah aku lelaki beraroma rimba,” bisiknya. “Sudah cukup banyak binatang buas yang kubunuh, dan tubuhku, di masa kecil dulu sudah penuh luka oleh duri-duri hutan dan cakaran binatang. Lalu kenapa aku harus takut? Ini tanah kampungku, rimba moyangku. Akulah hantu hutan itu.”

Ia melemparkan cerutu, membiarkan percik apinya dipadamkan angin. Dari kejauhan, ia melihat kerlap-kerlip lampu dari warung-warung liar yang berdiri sepanjang jalan lintas. Tempat ia meninggalkan mobil dan sopir pengantarnya. Ia ingin jalan kaki, sendirian, dalam gelap. Menyusuri jalan berbatu puluhan kilometer ––mungkin sampai pagi. Sampai telapak kakinya penuh darah, penuh luka. Mungkin itulah cara ia mengingat luka moyangnya, luka kampung halamannya. Puluhan tahun lalu.

***

Haruskah ia berterimakaih kepada William? Atau justru mengutukinya, menyumpahinya, juga orang-orang sebangsanya. Merekalah awal segala petaka, sumber segala duka. “Setelah menancapkan pipa berkarat ke kampung kami, lalu menanaminya dengan luka. Mengoyak kehidupan hingga mengalirkan air mata abadi.” Dipungutnya sebuah batu seukuran kepalan tangan, lalu dilemparkannya ke pipa baja yang rebah dengan angkuh. Tang!

“Aku bukan Gabriel, si malaikat itu. Bukan, aku bukan si malaikat. Aku Awang si anak Sakai degil, si anak hutan yang takut pada suara gergaji mesin dan buldoser. Lalu kenapa namaku menjadi Gabriel? Apa karena si keparat William, ah bukan si keparat. Dia menjadi papaku, orang asing yang membesarkanku. Setelah kampungku luluh lantak, tanpa bekas. Betul, tanpa bekas.”

Ia terus bergumam sambil menghirup udara dalam-dalam. Ingatannya kembali ke puluhan tahun lalu, masa kecil dengan kebahagiaan yang sederhana. Tempat bermainnya sebatas semak belukar dan rawa-rawa. “Akulah Awang!” teriaknya di malam sunyi, disahuti lengking siamang dan burung malam.

Saat itu hutan-hutan masih lebat, rawa-rawa mengalirkan air dengan jernih. Lalu datanglah orang-orang bertubuh tinggi besar, berambut dan berkulit merah. Mereka datang ke hutan dengan pengawalan tentara. Survei katanya, sebab di hutan itu ditengarai terdapat banyak sumber minyak bumi. Kemudian di waktu yang lain, datang orang-orang yang berbeda. Juga melakukan survei dan pemetaan. Katanya, hutan-hutan itu sangat potensial dijadikan bahan baku kayu lapis dan kertas.

Mereka semakin sering datang, sesekali mampir ke gubuk-gubuk renta di tengah hutan. Memberi anak-anak kecil makanan dalam kemasan, minuman kaleng, biskuit dan sebagainya. Awalnya anak-anak takut kepada orang asing, tapi lama kelamaan menerima makanan aneh itu. Juga Awang, si anak degil yang tubuhnya dipenuhi guratan onak. Sebab makanan bagi mereka, hanya buah dan umbi-umbian hutan. Juga ikan-ikan rawa yang biasa mereka tangkap dengan tombak atau bubu.

Lalu, semakin banyak orang datang. Semakin banyak suara mesin meraung-raung. Mereka menebangi hutan, membabati semak belukar dan meracuni sungai-sungai untuk diambil ikannya. Binatang buruan semakin jarang, sebab orang-orang asing itu menembakinya untuk dijadikan santapan. Anak-anak semakin takut, sebab raungan mesin gergaji dan buldoser siang malam membisingkan hutan. Meriuhkan ketenangan rimba yang selama ini mereka hayati.

“Di mana kini Lamira? Si cantik berambut panjang itu. Perawan harum bunga rimba, yang setiap pagi dan petang pergi ke sungai. Ah, di mana perawan malang itu kini berada. Sudahkah dia setua aku dan tinggal di kota?” gumamnya lirih. Dia terkenang Lamira, gadis kampungnya yang lugu dan pemalu. Dulu, dulu sekali di masa kecilnya, perawan cantik itu pernah dikabarkan hilang. Lalu dua hari kemudian ditemukan menangis tersedu-sedu di bawah sebatang pohon meranti tua. Hilang diculik begu, si hantu hutan itu kah?

“Tidak! Aku tidak percaya dengan bualan tentang hantu hutan yang suka menculik perawan. Sebab kejadian itu baru sekali, pada Lamira. Sebab kami juga berkawan dengan hantu-hantu itu, yang setiap purnama kami hibur dengan tarian dan tetabuhan. Lamira tidak diculik dan disetubuhi begu. Aku yakin sekali, dia disekap dan diperkosa oleh orang-orang perusahaan itu. Karena ia selalu lari ketakutan dan menangis setiap orang-orang itu datang, atau sekadar lewat di kampung.”

Ia terus melangkah, hingga telah melewati beberapa bukit dan tikungan. Malam semakin larut, ditandai dengan bunyi binatang nokturnal yang semakin ramai. Suaranya gaduh seperti pasar malam di tepi jalan berbatu dan semak belukar sepi itu. “Lalu di mana kini Lamira? Mungkinkah dia salah satu dari puluhan perempuan tua penjual kacang rebus di rumah makan dekat jalan lintas tadi? Aku sudah sangat lupa dengan wajahnya, apalagi harum bunga rimba di tubuhnya.”

Sejak kedatangan mesin-mesin raksasa ke tengah hutan itu, semakin banyak pohon ditebang. Kayu besar diangkut truk tronton roda sepuluh, katanya untuk bahan kayu lapis. Sedangkan kayu kecil diangkut untuk bahan baku kertas. Mereka semakin banyak mendatangkan mesin-mesin dengan suara melengking. Membuat lubang dengan mesin bor, lalu memasang robot yang mengangguk-angguk setiap saat. Belakangan ia tahu, itu pompa untuk mengangkat minyak bumi yang banyak terdapat di dalam tanah, di dalam hutan. Mengalirkannya ke pipa-pipa raksasa yang memanjang tak putus, melengkung mengikuti arah jalan.

Jumlah pipa semakin banyak, mengikuti pertambahan mesin pengeboran minyak. Kemudian, ketika jalur pipa mengarah ke kampung penduduk suku terasing itu, masalah mulai terjadi. Sering terjadi pertengkaran antara penduduk kampung dan orang-orang perusahaan. Apalagi ketika sungai kecil yang melintasi perkampungan tak seberapa besar itu, banyak dicemari limbah minyak. Ikan-ikan mati, hutan-hutan habis, orang-orang kampung semakin bernasib tragis.

“Itulah malam jahanam! Mereka, orang-orang perusahaan, membakari gubuk-gubuk kami. Mengusir dan memporak-porandakan kehidupan kami.” Ia tetap meneteskan air mata, saat berjalan di samping pipa di tepi jalan itu. Air matanya semakin menderas, ketika ia ingat ibu bapaknya, juga dua adiknya ––yang tidak pernah ditemuinya lagi sampai sekarang. Samar-samar ia masih ingat, ketika terjebak di kobaran api dan terpisah dari orang-orang kampung yang berlarian ke dalam hutan. Ia masih ingat, saat seorang lelaki berkulit dan berambut merah menggendongnya menjauh dari kobaran api.

“Sampai kini aku tidak tahu, apakah mesti berterimakasih atau mengutuki William. Mengabdi atau mencaci papa Will?” ia menendang kaleng bekas soft drink yang dibiarkan tergeletak di tepi jalan. Kaleng itu mengenai salah satu sisi pipa. Klontang!

Ia juga masih ingat, setelah itu penolongnya ––kemudian ia ketahui bernama William–– membawanya ke barak, menjauhkannya dari kehidupan rimba, menyekolahkannya. Kemudian setelah bisa sedikit berbahasa Inggris, ia dibawa pulang ke negaranya, tempat asal perusahaan pengeboran itu. Saat itu kebetulan masa kontrak William di perusahaan sudah habis. Maka budaya rimbanya kemudian terkikis, menjadi budaya metropolis. Berpuluh-puluh tahun, sampai ia ingin kembali ke masa lalunya. Pulang ke bekas kampung halamannya, tanah moyangnya.

Ia memandangi beberapa pompa angguk yang terdapat di tepi jalan. Juga cerobong di bekas pengeboran yang selalu mengeluarkan api, meliuk-liuk di angkasa dengan jalang. “Aku yakin, setelah puluhan tahun pasti tanah-tanah di sekitar areal pengeboran ini berongga. Kalau ada gempa besar mungkin akan runtuh dan menyisakan lubang menganga. Aku yakin itu, seperti kampung penuh lumpur di timur pulau Jawa yang sampai sekarang masih menyisakan luka.”

Ia tersenyum kecut. Matanya memandang silhuet beberapa pohon meranggas. Berdiri di antara batang-batang kelapa sawit yang tumbuh tak teratur di beberapa tempat. “Aku tidak bisa membayangkan, seandainya kebakaran hutan yang setiap tahun melanda daerah ini, tiba-tiba meledakkan pipa-pipa itu. Tempat ini akan menjadi neraka.” Ia berhenti dan menyandarkan tubuhnya di samping pipa, menyalakan rokok, lalu menghembuskan asapnya perlahan-lahan. Ia istirahat sambil melamun, menikmati keheningan malam di tepi jalan menuju bekas kampungnya.

***

Menjelang dini hari, lamat-lamat ia mendengar deru mobil dari ujung jalan. Hanya dua sisi lampunya saja yang nampak jelas, meliuk-liuk mengikuti tikungan dan perbukitan. Ia tidak terlalu mempedulikannya, dan terus melangkahkan kaki. Mobil di depannya semakin mendekat, ada lampu merah saga di atasnya, menyala berputar-putar. Sebentar kemudian suara sirenenya melengking nyaring dan mobil berhenti tepat di depannya. Empat orang berpakaian security turun sambil membawa pentungan.

“Siapa kau! Malam-malam berkeliaran di areal pengeboran?” hardik security berseragam biru tua.

“Aku Gabriel si malaikat, bukan, aku Awang si anak Sakai. Aku mau melihat sisa kampungku,” jawabnya gugup.

“Tak ada perkampungan di sini. Kau mau mencuri? Kau anggota bajingan pencuri besi tua ya? Ayo ngaku!” seorang security menarik kerah bajunya.

“Tidak! Bukan! Aku mau mengunjungi bekas kampungku.”

“Pukimak! Maling mana mau ngaku!”

“Ayo kita bawa ke pos,” kata security yang lain sambil mendorongnya ke bak mobil patroli.

Braaak!

Security itu menghempaskannya sambil memaki-maki. Lalu mobilnya segera menderu ke arah jalan raya, ke arah yang tadi dilewatinya. Tubuhnya telungkup dengan borgol di tangan. Dari bias lampu mobil, dia masih bisa melihat pipa-pipa besar itu semakin memanjang dan menjauh. Di tepi jalan berbatu, menjauhkannya dari bekas kampungnya, di masa lalu.

Air matanya masih tersisa. Sejenak ia teringat gubuk-gubuk kayu di tengah hutan, kampungnya di masa lalu, orangtua dan adik-adiknya. Rumah mungilnya di tepi Mississipi, istri dan seorang anaknya. Juga William yang kini telah tua dan pikun, teronggok di kursi roda. Dia merasa harus segera pulang, entah ke bekas kampungnya atau kembali ke negaranya. Kemudian pandangannya menghitam, semakin gelap, mengikuti warna pipa di depannya.***

Read More..