Lukisan Anggrek Bulan

Oleh : Krismas Pamangin

Semburat merah jambu di kaki langit mewarnai indahnya senja Pantai Losari. Via duduk termenung di atas bongkahan tembok yang sekali-kali diterjang ombak kecil. Di sampingnya sosok tegap Mur ikut terbuai dalam keindahan Pantai losari senja itu.

Keduanya membisu. Terhanyut dalam sentuhan imajinasi yang teramat romantis untuk dilukiskan sekedar dengan kata-kata.

"Via, udah hampir malam. Pulang, yuk?!" Akhirnya Mur angkat bicara. Via menoleh sejenak. Tersenyum. Sejurus kemudian, tatapannya kembali menerawang di atas hamparan laut biru. Enggan rasanya meninggalkan pantai ini. Mur berdiri, meraih tangan Via dan mengajaknya pulang.

Ayo. Ntar mama kamu marah. Udah hampir malam begini kamu belum juga pulang."

Via tersenyum, tak kuasa menolak tangan kekar Mur yang setengah memaksanya beranjak dari tempat itu. Pulang.

Berdua mereka menyusuri pantai sambil sesekali memungut kulit kerang dan melemparnya ke laut, menyisakan riak-riak kecil.

Via sungguh menikmati kebersamaan ini. Meski dia sadar, tak pernah sekalipun terucap kata cinta di antara mereka. Terlalu prematur menjalin hubungan lebih dari sekedar sahabat. Ya, hanya sahabat. Itu sudah cukup bagi Via. Walau sebenarnya dia sendiri tidak yakin mampu menepis kemungkinan yang lebih dari itu.

Mur adalah sahabat yang baik, juga kakak kelasnya yang paling banyak membantunya selama ini. Meskipun Via baru mengenal Mur tiga bulan yang lalu, ia merasa cowok itu punya kharisma yang pantas dikaguminya.

Perkenalan yang teramat singkat namun berkesan bagi Via. Mur tampil membelanya ketika ia datang terlambat saat orientasi penerimaan siswa baru di sekolahnya.

Kakak-kakak kelasnya yang melihat ekspresi gugup namun sangat polos di wajah imut Via, berebutan menjatuhkan vonis untuknya. Via hanya bisa menatap satu-satu wajah mereka. Mata yang memelas memohon keringanan hukuman atas keterlambatannya malah membuat kakak-kakak kelasnya semakin bersemangat mengerjainya.

Tanpa sadar mata Via berkaca-kaca. Dalam hati, perasaan sedih, takut, malu dan gugup menyatu dan melemaskan sendi-sendi ketegarannya. Ia hanya bisa tertunduk pasrah menikmati bentakan-bentakan kakak kelasnya. Terasa sakit sekali!

"Semua bubar. Biar aku yang mengurusnya!" Sebuah suara tegas penuh wibawa menghentikan eksekusi tak berbelaskasihan itu. Suara milik Mur, Ketua OSIS yang kini berdiri tegak di hadapan Via.

"Nama kamu Via Cemara, kan? Hmm... Nama yang bagus. Aku panggil Via aja ya?" Via mengangkat wajahnya perlahan. Tetapi kembali tertunduk.

"Maaf, Kak. Via terlambat." Akhirnya Via berani membuka mulut. Sekilas ia menangkap dua kata yang tertera di atribut cowok itu, Ariel Murion.

"Ya sudah. Kamu boleh masuk. Tapi melapor dulu sama panitia dan tinggalkan atributmu di sana," Mur menunjuk beberapa siswa yang duduk menghadap meja di pintu aula sekolah. "Jangan lupa temui aku di ruang sekretariat OSIS pada jam istirahat."

"Terima kasih kak. Permisi!" pamit Via sopan sambil dan beranjak meninggalkan Mur. Dalam hati ia berjanji suatu saat bisa membalas kebaikan Mur.

Tiga bulan berlalu, via merasa sudah amat banyak yang berubah dalam dirinya sejak masuk SMU. Ia merasa semakin dewasa dan memiliki makna hidup yang lebih besar.

Kehadiran Mur walau hanya sebagai teman memberinya banyak peluang untuk terlibat dalam berbagai kegiatan OSIS dan ekstrakurikuler di sekolah ini.

Entah kenapa Via merasa aman dekat dengan Mur. Ia ingin Murlah orang pertama yang ikut merasakan suka dan dukanya. Teman berbagi yang bisa menemaninya saat ia sedih, tertawa dan menagis.

Selama ini, mamalah yang menaunginya. Membelainya dan memberinya arti tentang perjuangan untuk meraih semangat hidup. Sekarang ia sudah dewasa. Bahkan lebih dewasa dari teman seumurnya. Besok, tanggal 25 Juli, umurnya sudah tujuh belas tahun.

Untuk kesekian kalinya Via mendesah. Tangan mungilnya masih sibuk menggerakkan sapuan kuas di atas kanvas. Sketsa yang tadi dibuatnya mulai dibentuk menjadi seraut wajah lelaki setengah baya persis seperti foto yang tergantung di dinding kamarnya. Foto papa!

Dua titik kristal bening menetes di pipinya. "Via rindu papa, Entah kenapa Via merasa papa belum meninggal seperti yang diceritakan mama. Akh andai Via bisa melihatmu sekali saja. Via akan senang, Pa. Via nggak bakalan menuntut apa-apa lagi. Cukuplah kehadiran papa. Itulah harta yang sangat berharga. Via sayang papa." Desahnya dalam hati.

Ditatapnya foto itu lekat-lekat. Mata yang begitu teduh. Sepertinya Via pernah melihatnya. Bahkan teramat dekat baginya. Tapi siapa ya? Via terus bertanya-tanya dalam hati.

"Lukisan yang bagus," Via kaget. Ternyata mama sudah berdiri di ambang pintu tanpa disadarinya. "Via belum tidur?"

"Belum ngantuk, Ma," Via berusaha menyembunyikan perasaannya di depan mamanya. Ia ingin terlihat tegar.

"Tidurlah, sayang! Besok kamu masuk sekolah. Malu kan kalau masuk sekolah dengan mata sembab kayak gitu?" Via hanya diam. Ditatapnya lekat-lekat mata mamanya, seakan mencari jawaban atas rasa penasarannya selama ini. Dan yang didapati hanya satu. Mama menyimpan satu rahasia yang tak ingin orang lain tahu. Bahkan Via sekalipun.

"Via boleh nanya sesuatu, ma?" Tanya Via perlahan. Sesaat mamanya terdiam. Tetapi kemudian mengangguk. "Apa benar papa udah meninggal?" Via menatap wajah mamanya lekat-lekat.

"Via pikir mama bohongin kamu?"

"Via percaya kok sama mama. Cuma. Hati kecil Via yang sulit percaya. Sepertinya mama menyimpan satu rahasia. Ya Sampai sekarang mama belum pernah cerita penyebab kematian papa. Dan di mana kuburan papa. Katakan, Ma! Via bukan anak kecil lagi. Via yakin mama lakukan ini demi kebahagiaan Via. Mama rela berbohong demi Via. Katakan, Ma!! Mama sayang Via. Ya kan Ma?" Via mulai terisak sambil mengguncang bahu mamanya yang hanya diam berdiri mematung. Tanpa disadari, dua titik Kristal bening menetes di pipi wanita itu.

Hening sesaat. Pandangan mama menerawang jauh. Menembus masa lalunya yang pahit. Ekspresi wajahnya menunjukkan kalau ia tak ingin masa lalunya terkuak kembali. Tapi, haruskah ia terus-menerus berbohong? Demi Via, buah hatinya. Miliknya yang paling berharga. Satu-satunya yang tersisa dari keretakan rumah tangganya. Bagaimanapun Via berhak tahu.

"Mama pikir, sudah waktunya Via tahu semuanya," ujar mamanya nyaris tak terdengar. "Ikut mama! Mama akan memperlihatkan sesuatu sama kamu." Tanpa banyak tanya Via bangkit mengikuti mamanya.

Sebuah lukisan anggrek bulan terpampang di depan mata Via. Di sudut kirinya nampak foto papa dengan mata teduh dan senyum khasnya. Via memandangnya tanpa berkedip. Lukisan yang teramat indah dan hidup meski framenya sudah retak di keempat sisinya.

"Hanya ini yang papa tinggalkan sebelum pergi. Lukisan ini dulunya adalah hadiah ulang tahun mama yang ketujuh belas dari papa. Sebenarnya ada dua. Tapi yang satunya ada sama papamu. Lukisan ini begitu berharga buat mama." Sejenak mama terdiam. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya seakan-akan ingin melepas semua ganjalan di dadanya.

"Papa sekarang di mana, Ma?" Tanya Via hati-hati. Ditatapnya wajah mamanya. Mencoba mencari kejujuran di sana. Namun yang tersisa hanyalah guratan duka menahun. Duka yang selama ini disembunyikan di wajah tulus itu perlahan mulai terkuak.

"Mama nggak tahu. Selama ini mama mengarang skenario kalau papa udah meninggal supaya kamu nggak bertanya terlalu jauh. Mama nggak ingin masa lalu yang menyakitkan itu membayangi keluarga mama. Cukuplah mama memilki kamu. Itu sebabnya mama mengikutkan kamu kursus ini dan itu supaya kelak kamu bisa mandiri. Mental kamu sudah siap menerima kenyataan yang menyakitkan sekalipun. Mama akui kamu butuh figur papa, meski mama telah berusaha menjadi mama sekaligus papa bagi kamu."

"Kalau Via boleh tahu, kenapa mama pisah sama papa?" kejar Via. Mamanya menunduk dalam-dalam. Berusaha menggali memori yang telah dikuburnya dalam-dalam.

"Keangkuhan. Ya, waktu itu mama ditawari kerja dari perusahaan berkelas internasional karena mama alumni Universitas terkenal di Australia. Papa nggak setuju. Katanya sepintar apa pun wanita, toh akan kembali juga mengurus rumah tangga." Sekilas mama menelan ludah getir. "Sejak itu, pertengkaran-pertengkaran kecil selalu menjadi warna rumah tangga. Mama nggak nyangka kalau pertengkaran itu berbuntut perpisahan. Seandainya ada yang mau mengalah. Kejadiannya nggak bakal seperti ini. Maafkan mama, Via! Sebenarnya mama pun sempat berpikir, mungkin ini hanya keputusan emosional, lagipula saat itu mama mengandung kamu. Mama sungguh takut nggak bisa membahagiakan kamu."

"Tapi mama masih mencintainya, kan?" Tanya Via.

"Mungkin." jawab mama singkat. Terlalu berat baginya memastikan perasaannya saat ini. Meski sadar selama ini dia berusaha menentang kata hatinya.

"Kalau mama masih mencintai papa, kenapa nggak ada niat kembali? Demi Via, Ma. Demi Via!! Mama tahu Via butuh kasih sayang papa."

"Mama ngerti, Via. Setelah perpisahan itu, mama kembali ke Makassar, mencoba memulai hidup baru. Tapi mama masih berusaha mencari tahu tentang keberadaan papamu. Sejujurnya mama nggak bisa melupakan bayang-bayang papa, apalagi si kecil Rion yang baru berumur 2 tahun."

"Rion???" Tanya Via penasaran.

"Kakakmu. Waktu itu pengadilan memutuskan Rion ikut papa demi masa depannya. Rion. Oh Rion, Sekarang dia pasti sudah besar. Tapi Dia nggak kenal mamanya mama yang mengandung dan melahirkannya." Desis mama tersendat. Air matanya tak tertahan lagi. Hati Via trenyuh. Hanyut dalam tangis dan pelukan mamanya. "Sebenarnya mama pernah mencarinya tapi mama kehilangan jejak mereka. Mereka meninggalkan Medan enam bulan setelah peristiwa itu."

"Udahlah, Ma. Itu bukan salah mama. Via nggak masalah kok. Justru Via harus berterima kasih ama mama. Mama terlalu banyak berkorban untuk Via." Ujar Via menetralisir gejolak hatinya. "Oya, udah larut malam nih. Via besok ada ujian kuis. Via tidur dulu ya!" Via mengecup pipi mamanya dan beranjak kembali ke kamarnya. Dia tidak ingin mamanya larut dalam kesedihan yang dalam. Cukuplah, ia sudah tahu semuanya.

Jarum jam menunjukkan Pukul 00.05. Ponsel Via berdering. Siapa lagi yang menelpon malam-malam kalau bukan Mur.

"Happy Birthday, My dear! " Suara usil Mur dari seberang. Via terharu. Mur yang paling pertama mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.

"Thanks, Mur. You are the first to say happy birthday to me." Via tersenyum senang.

"Ooo. Im the first and may be the best." Mur tertawa renyah.

"Anything else?"

"Oya. Besok, sepulang sekolah, kita singgah di rumahku. Aku ada kejutan. Special for you. Aku tunggu di tempat parkir ya. Bye.!!" Telpon diputus tanpa memberi kesempatan Via bertanya lebih jauh.

Sepuluh menit Via duduk menunggu. Sosok Mur belum juga nongol. Via jadi bete. Dalam hati ia menggerutu.

"Hai, My dear. Dari tadi?" entah dari mana datangnya Mur sudah berdiri di sampingnya dengan mimik tanpa dosa.

"Dasar gilingan!! Aku sudah sepuluh menit menunggu. Kemana aja sih?"

"Sorry, Non. Biasa, Asisten Pak Rizal. Habis bantuin beliau bawa peralatan lab."

Detik berikutnya, Feroza violet milik Mur melaju di atas aspal mulus, menembus rinai gerimis siang itu. Sepanjang jalan, via lebih banyak diam.

"Via!" tegur Mur memecah kesunyian. "Mungkin ini ultahmu yang pertama sekaligus terakhir yang bisa kita rayakan bersama. Tahun depan papa rencana memboyongku ke Cambridge untuk kuliah di sana. Itu berarti kita nggak ketemu lagi."

"Itu kan kesempatan, Mur. Kapan lagi bisa sekolah di luar negeri. Sebagai teman dekatmu, aku ikut bangga, kok." Ujar Via datar. Meski hatinya menjerit. Bayangan kehilangan sosok sahabat sejati seperti Mur menggiringnya pada suasana hati yang hampa. Tanpa Mur, tak akan ada lagi yang istimewa. Hari-harinya hambar, tanpa tawa dan canda usil Mur.

"Masalahnya bukan itu, Via. Aku takut kehilangan kamu." Desis Mur lirih. Via tersentak. Mur menyadari perubahan air muka Via. "Maksudku, aku menganggapmu bukan hanya sekedar teman, tetapi juga sebagai adik yang mengisi kekosongan hari-hariku. Papa terlalu sibuk. Di rumah aku nggak punya teman."

"Mama kamu?" Tanya Via

"Mama?" Mur mengulang pertanyaan via. "Mama meninggal waktu aku masih kecil." Jawab Mur nelangsa. Via sedikit menyesal dengan pertanyaannya barusan.

"Sorry, Mur, aku nggak bermaksud membuatmu sedih."

"Nggak apa-apa kok, Via. Aku justru senang kamu care ama aku. Itulah sebabnya aku berat meninggalkan kamu." Sejenak Mur terdiam seperti kehabisan kata-kata. "Oya, kamu ingin kado istimewa apa untuk ultahmu?" Mur mencoba mengalihkan pembicaraan. Pamdangannya beralih ke wajah imut Via. Via menggeleng.

"Aku nggak perlu sesuatu yang istimewa. Ucapan selamat pun udah cukup. Cuman" Via menggantung kata-katanya.

"Cuma apa?" desak Mur sedikit heran.

"Akh nggak kok." Via menelan ludah. "Andai kau tahu, Mur. Aku merindukan papa. Kalau saja papa bisa hadir bersamaku, itulah kado paling istimewa. Dan hanya Tuhan yang bisa memberinya. Bukan kamu, Mur. Bukan juga mama. Aku sungguh ingin melihat seperti apa rupa papaku yang asli. Selama ini hanya foto yang bercerita padaku. Itu pun hanya sepenggal. Ya, papa memiliki mata teduh, periang namun tegas. Hanya itu yang bisa diceritakan selembar foto berbingkai di kamarku. Juga lukisan itu. Ya, masih ada satu, Mur. Aku yakin papa orangnya romantis, berjiwa seni dan penyayang. Mungkin jiwa papa seperti aku. Senang melukis dan sedikit melankolik. Lukisan anggrek bulan itu sedikit banyak juga berbicara tentang papa". Jerit batin Via.

Selanjutnya Via hanya membisu hingga perlahan feroza violet itu memasuki pekarangan yang tertata rapi dan natural.

Dengan sedikit ragu, Via melangkah memasuki ruang tamu yang sudah didekorasi dengan sangat indah. Di tengah ruangan, di atas meja ada kue tart dengan tulisan "HAPPY BIRTHDAY" berwarna biru berbaur dengan warna merah muda.

"Apa-apaan ini, Mur?" Via surprise. Keharuan menyeruak ke dalam hatinya. Mur hanya tersenyum.

"Special for you. Kita rayain berdua ya? Ayo, sini tiup lilinnya." Ajak Mur sambil menarik tangan Via. Via menurut. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti.

Via terbelalak ketika tatapannya terbentur pada sebuah lukisan anggrek bulan yang terpampang jelas di dinding ruang tamu. Tanpa pikir panjang dia berlari mendekati lukisan itu. Di sudut kiri lukisan itu ada foto papanya. Persis sama dengan lukisan di kamar mama. Ditatapnya sekali lagi tanpa berkedip. Tidak salah lagi. Dia baru sadar, ternyata mata teduh itu, Oh Mata teduh itu juga milik Mur.

"Itu lukisan dan foto papa. Kado ultahku yang ketujuh belas dari papa. Kalau kamu suka, ambillah!" Mur tiba-tiba berdiri di belakang Via. Via menoleh, Detik berikutnya ia menghambur kedalam pelukan Mur yang masih terbengong-bengong.

"Kakak Riooooon!!!!!!"

Read More..
 
Cerpen Romantis

Catcher:
Mendadak Tini mendengar gempa menderu di dadanya mendengar pujian itu. Kok bisa-bisanya Gerdy muncul di sini. Padahal dia kan kakak kelas yang kebagian tugas mengurusi sound system untuk acara Kartinian sekarang.


Tini mematut-matut diri di cermin. Menghadap samping kiri, kanan, senyum sendiri. Lantas mendekatkan wajahnya sampai kira-kira hanya berjarak sepuluh senti dari cermin itu. Sempurna. Wajahnya sedang bersih sebersih-bersihnya, tanpa noda-noda cokelat, apalagi jerawat. Ia juga sudah mencabuti alisnya yang agak berantakan, supaya terlihat lebih rapi.
“Tin! Sedang apa kamu? Buka dong pintunya,” pinta Ibu dari balik kamar.
“Sebentar, Bu…!”
“Nih, coba pakai, sudah cocok belum.”
Enaknya jadi anak tukang jahit ya seperti ini. Setiap ada acara, Tini akan mempunyai kesempatan pertama dijahitkan baju oleh Ibu. Model yang paling sulit pun akan Ibu kerjakan tanpa ribut. Sudah gitu, gratis lagi. Paling-paling Ibu hanya minta dibuatkan teh hangat atau dipijit-pijit pundaknya.
Pantulan di cermin membuat Ibu terlihat sangat kagum. Tini memang sudah tumbuh menjadi gadis yang amat menawan. Ciri khas seorang kartini abad milenium yang energetic, penuh gaya, pandai, dan lincah. Lihatlah penampilannya dengan kebaya brokat modern, kain panjang dan selendang, benar-benar membuat Ibu pangling.
“Gimana, Bu, sudah cantik belum?” tanya Tini seperti mengharapkan pujian.
Ibu manggut-manggut dan mengacungkan jempol. Sesekali membetulkan letak selendang yang menjuntai di pundak Tini.
“Sebenarnya Tini deg-degan, Bu. Bagaimana kalau selop Tini nyangkut di karpet nanti? Atau kalau konde Tini terlepas ketika jalan di atas panggung? Belum lagi Tini kan gampang sekali keringatan. Jangan-jangan make up-nya sudah luntur sebelum giliran Tini dipanggil. Atau….”
“Tin, kalau belum apa-apa sudah cemas begitu, percuma dong. Meskipun baru kali ini ikut fashion show Kartini Millenium, bukan berarti kamu jelek. Yang penting tunjukkan rasa percaya diri kamu dengan mengangkat kepala seperti ini nih. Jangan lihat mata penonton, tetapi sejengkal di atas kepala mereka tatapan kamu arahkan.”
Kali ini Tini yang merasa kagum melihat Ibu. Cara Ibu berjalan seperti benar-benar sedang memperagakan sebuah acara mode. Begitu anggun, ayu, lembut. Bagaimana mungkin Tini bisa menirunya?

“Tini tetap cemas, Bu.”
“Itu namanya demam panggung. Tak apa, teman-teman sekelas akan memberi semangat buat kamu.”
Benar juga kata Ibu. Teman-teman memang memberi semangat ketika Tini muncul di sekolah. Mereka bersorak melihat penampilan Tini yang beda dari biasanya.
“Gila, Tin. Hebat banget elu dandan. Feeling wali kelas kita memang oke ya milih elu yang akan mewakili kelas kita.”
“Bukan cuma gue, tetapi juga Melia,” jawab Tini yang mulai ribet dengan selendangnya.
“Ah, Melia kan sudah biasa ikut lomba-lomba seperti itu di luar sekolah, kalau kamu kan new comer. Makanya pasti seru banget! Terus terang kamu cantik sekali lho,” kata Gerdy, yang tiba-tiba muncul di samping Tini.
Mendadak Tini mendengar gempa menderu di dadanya mendengar pujian itu. Kok bisa-bisanya Gerdy muncul di sini. Padahal dia kan kakak kelas yang kebagian tugas mengurusi sound system untuk acara Kartinian sekarang.
“You look wonderful. Bener-bener beda,” ujar Gerdy lagi. Kali ini ia menyodorkan kertas karton bulat besar yang bertuliskan nomor peserta.
Tini jadi salah tingkah. Mau bilang thanks, nanti disangka yang lain dia memang merasa sok cantik. Tapi kalau diam, bisa-bisa disangka sombong oleh cowok itu.
“Ah, aku biasa saja kok. Yang bikin aneh kan konde ini.” Tini menyesal dengan jawabannya yang kacau. Apalagi ketika dilihatnya Gerdy tertawa, geleng-geleng, dan menjauh.
“Stupid lu!” makinya dalam hati. Mestinya tadi dia bilang tengkiu atau makasih, atau ah, yang bener, atau masa aku cantik sih?
Beberapa saat kemudian kelas mereka kembali riuh. Ternyata Melia sudah datang dan dia benar-benar cantik! Tini minder lagi. Kebaya yang dipakai Melia begitu mewah, berleher rendah, menampilkan kulit Melia yang putih susu. Kilau giwang yang menampilkan puluhan bias warna di telinga Melia menandakan bahwa perhiasan itu pasti mahal.
“Kalau gue gak juara satu, berarti jurinya juling,” celetuk Melia dengan arogannya. Lantas sejenak ia melirik ke arah Tini, yang agak kegerahan karena mentalnya mulai down. Pandangnya penuh selidik, mencermati sosok Tini, yang berubah keibuan karena kebaya yang dipakainya.
“Hai, Tin, selop elu gak matching sama tusuk konde. Bisa mengurangi nilai tuh,” kata Melia lagi. Padahal sebenarnya ia takjub melihat keanggunan Tini dari ujung rambut sampai ujung selop emasnya.

Lagi-lagi Tini merasa bodoh. Memangnya juri menilai sampai situ? Apa tusuk konde ibunya akan kelihatan dari atas panggung? Rasanya kebaya ini jadi kedodoran di badannya. Rasanya sarung yang dipakai tampak kumal bila berjejer dengan Melia. Jelas terlihat, Melia sudah berdandan habis-habisan. Dan terus terang hasilnya memang perfect!
“Mel, elu dan Tini sama kerennya. Tinggal beradu jalan di catwalk. Jangan sirik gitu dong.” Johan datang membela Tini.
“Pengalaman akan membuktikan siapa yang jadi juara nanti,” sahut Melia dengan cueknya.
“Kalo elu menang sih wajar. Kan elu udah biasa jadi juara. Justru kalo Tini bisa dapat nomor juga nanti, itu baru luar biasa,” tambah Ance.
Beberapa teman datang menghibur, sehingga air mata yang mulai menggenang di pelupuk tidak jadi keluar. Perlahan Tini mengelapnya dengan ujung tisu, supaya tidak merusak dandanan di wajahnya. Tini mulai menyesali pilihan wali kelas atas dirinya. Kalau beradu otak untuk urusan rumus atau hafalan, bolehlah memilih dia. Kalau beradu sprint atau men-dribble bola basket di lapangan, bisa dipastikan Tini akan menjadi juara. Tetapi ini? Tini mulai ragu, jangan-jangan sebenarnya teman-teman sekelas menertawai penampilannya saat ini. Jangan-jangan mereka tidak tulus memujinya.
Lagu Ibu Kartini dilantunkan begitu indah dan hikmat oleh paduan suara gabungan kelas IPA. Kemudian diulang oleh seluruh murid yang berbaris rapi di lapangan. Sebelum variety show, mereka memang melakukan upacara singkat terlebih dahulu untuk mengenang jasa-jasa Kartini di masa lalu. Setelah mengheningkan cipta, ada pembacaan sajak oleh salah seorang guru. Sungguh menyentuh.
Beruntung langit mendung, tidak panas terik. Jadi, para siswi yang berpakaian daerah tidak sibuk kegerahan oleh kostum yang dikenakan.
“Tin, nanti jangan lupa senyum, ya. Tinggal dua peserta lagi, baru giliranmu. Ingat lho. Senyum.” Kemala, yang adalah sahabat Tini, memberikan support.
“Gue takut yang kelihatan malah seperti kuda meringis, Mal.”
“Ah, elu. Masa, cewek jagoan sudah keok sebelum bertanding? Santai, tarik napas panjang. Ya… seperti itu.”
“Trims banget buat support elu. Semoga gue nggak mengecewakan.”


Meskipun sudah berulang kali menarik napas panjang seperti saran Kemala, Tini merasa dadanya tetap penuh kecemasan. Apalagi ketika nomornya dipanggil. Ia merasa, pundaknya berat karena stres. Pipinya menghangat karena deraan malu. Sempat tertangkap matanya Melia tengah mencibir ketika ia akan naik ke panggung.
Suara MC yang tengah memperkenalkan dirinya sebagai kontestan nomor sembilan semakin membuatnya nervous. Tini mengangkat kepala, tersenyum di ujung panggung dan mulai melangkah pelan. Ia ingat kata-kata Ibu tadi malam. Jalan dengan penuh penghayatan, tanpa melihat mata juri dan penonton. Kedua tangannya merapat ke dada dan memberi hormat dengan luwesnya. Tepukan dari teman-teman sekelas menambah rasa percaya dirinya. Kembali ia tersenyum, menunduk sejenak, berputar sekali lagi dan turun dari panggung.
Ketika selesai bergaya, di balik panggung Tini segera mengusap tetesan keringat di dahi dan lehernya.
“Tin, selamat ya.... Kamu cocok juga jadi peragawati.”
Gerdy muncul sambil membawa Aqua gelas. Tini tersipu mendengar pujian Gerdy. Apalagi ketika kakak kelasnya itu mengedipkan sebelah matanya. “Yah, meskipun gak juara, yang penting aku sudah mencoba,” kata Tini sambil menerima minuman dari tangan Gerdy.
“Berani taruhan, kamu pasti dapat nomor. Kalau kamu menang, aku yang nraktir kamu deh.”
“Kalau kalah?”
“Gak mungkin.”
Obrolan mereka terputus ketika Gerdy dipanggil oleh salah seorang anggota panitia. Cowok itu pamit sambil melakukan tos dengan Tini. Membuat Tini melambung, menciptakan khayalan tersendiri bersama Gerdy.
Hasilnya? Betul kata Melia, akhirnya Melialah yang terpilih sebagai Juara Pertama. Tetapi Tini tidak kalah bangganya ketika namanya dipanggil sebagai Juara Ketiga. Ini lompatan karir yang luar biasa, mengingat ia baru pertama kali mengikuti ajang seperti ini meskipun baru di tingkat sekolah.
“Benar kan kataku, kamu pasti dapat juara,” kata Johan dan Ance hampir berbarengan. Mereka berebut menyalami Tini, begitu juga yang lainnya, sejenak Tini merasa seperti menjadi seorang selebriti yang sedang naik daun.
Tini segera berganti pakaian di dalam kelas setelah selesai memperoleh pialanya. Ia tidak pulang dulu, karena sudah janjian akan ke rumah Niken. Ketika sedang wara-wiri ke sana-kemari di sekolah, tiba-tiba Louise memanggil sisa teman sekelas supaya berkumpul. Hanya ada kurang lebih lima belas anak.

“Melia kecelakaan di jalan tol tadi, ia banyak kehilangan darah dan perlu transfusi darah.”
Tini baru ingat pada Melia. Temannya itu memang langsung pulang, karena akan mengikuti seminar kecantikan sore harinya.
“Apa golongan darahnya?”
“B.”
“Ayo, cepat, antar aku ke rumah sakit. Golongan darahku sama dengannya. Siapa tahu aku bisa membantunya.”
Tini dan dua orang teman lain yang bergolongan darah B segera ke rumah sakit untuk membantu Melia. Selebihnya menunggu tumpangan untuk berbondong-bondong menjenguk.
Tini masih tidur-tiduran karena mengantuk. Mungkin itu akibat transfusi darah yang beberapa jam lalu dilakukannya. Sehabis makan, dengan porsi lebih banyak dari biasanya, ia langsung tertidur pulas.
“Tin, ada telepon dari wali kelasmu,” kata Ibu sambil menggoyang-goyangkan badannya.
Sontak Tini meloncat dan segera berlari mengangkat telepon.
Ibu hanya memperhatikan dari jauh sambil senyum-senyum. Dan senyum itu menjadi semakin lebar ketika melihat Tini menjerit girang sehabis meletakkan gagang telepon.
“Ada apa, Tin?”
“Ibu tahu, pialaku akan ditukar.”
“Ditukar? Kenapa?”
“Ternyata ada kehebohan di sekolah tadi. Tiba-tiba orang tua Melia mengaku, mereka telah menyuap dua dari tiga orang juri supaya Melia bisa menjadi juara satu. Wakil juri dari orangtua langsung mengaku, sedangkan juri yang mewakili seluruh murid baru saja mengaku setelah diinterogasi panjang lebar oleh kepala sekolah.”
“Lho, apa motivasi mereka sih? Cuma urusan begitu saja sampai makai sogok segala?”
Tini hanya tersenyum. Ia tahu, juri yang disuapnya itu adalah istri salah seorang kolega papa Melia yang kaya raya. Sedang juri yang satu lagi ternyata masih terhitung sepupu jauh Melia. Menyuap pihak guru jelas tidak mungkin. Tetapi perhitungan dua banding satu telah membuat Melia terpilih menjadi juara pertama.

Orangtua Melia mengaku karena menganggap bahwa kecelakaan yang terjadi akibat perbuatan mereka yang tidak jujur. Mereka menyesal, apalagi setelah mereka tahu Tini adalah salah satu murid yang menyumbangkan darah untuk keselamatan Melia.
“Aku senang sekali. Bayangkan, Bu. Juara dua!”
“Ibu juga senang, Sayang.”
“Bukan hanya itu, katanya lagi aku terpilih menjadi Kartini Milenium terfavorit, hasil dari pemungutan suara yang dihitung ketika aku di rumah sakit. Hadiahnya bukan piala, tetapi uang buku dari beberapa donatur yang bersimpati. Banyak yang menyesalkan Melia, padahal kalau tidak menyogok pun dia pasti keluar sebagai juara. Apalagi pengalamannya tampil di peragaan busana sudah menghasilkan beberapa piala di rumahnya. Sayang ya, Bu.”
“Kok kamu bisa jadi Kartini Favorit ya?”
“Itu lho, Bu. Penilaiannya dari segi akademis dan pergaulan, tetapi gerak cepatku yang langsung ke rumah sakit untuk donor darah menjadi nilai tambahnya. Kata wali kelas, itulah ciri seorang Kartini masa kini. Bukan hanya luwes saat memakai kebaya, tetapi bersikap sportif dan mampu mengatasi keadaan dengan cara yang paling tepat.”
“Ibu tidak menyangka, Nak. Sini Ibu peluk, Ibu bangga lho sama kamu.”
“Ada yang lucu, Bu. Kata teman-temanku, selama ini Melia sirik dengan prestasiku. Padahal aku tak pernah menganggapnya sebagai saingan tuh.”
Tini senyum-senyum lagi sendiri. Membuat Ibu semakin tidak mengerti. Tentu saja Ibu tidak akan mengerti, karena kali ini senyum Tini untuk Gerdy. Bukankah cowok itu berjanji akan mentraktirnya kalau ia bisa menjadi juara? Bukan soal traktirannya di mana atau kapan sih, tetapi jalan cerita setelah Gerdy selesai menraktirnya nanti. Tini berharap, ia akan beruntung juga menjadi juara mendapatkan cinta Gerdy yang keren itu. Kalau bisa sih jangan sampai ada saingan yang muncul tiba-tiba. Ia kepingin mendapatkan Gerdy dengan mulus. Rasanya Tini harus mulai berdoa dari sekarang, kan?


Read More..