Chika pulaaaang!!!
Itulah yang saya teriakan ketika sampai ke rumah. Kedatangan di rumah disambut oleh papa, oma, mbak dan kucing-kucing tercinta~! (Kakak lagi nge-band di suatu tempat, jadi nggak ikut menyambut kedatangan saya) Uuhh…I miss them all! >.<
Sejak hari Kamis hingga Minggu saya berlibur ke Bali. Liburan kali ini saya menemani mama tercinta yang mengikuti reuni kuliah di Bali. Asyik euy…walaupun harus keluar uang, tapi nggak apa-apa. Khan senang juga menemani orang tua. Hitung-hitung sekalian liburan sama mama.
Kamis, 17 Januari 2008
Kamis jam setengah 3, pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandar Udara Ngurah Rai. Cuaca panas di Bali menyambut saya yang gampang gerah ini. Dari Bandara, rombongan menuju hotel Harmoni untuk makan siang sekaligus sholat.
Sempat sedikit kaget ketika mengetahui perbedaan jam antara di Bali (WITA) dan Jakarta (WIB). Berarti mesti siap-siap nambahin sejam kalau lihat jam tangan (males menyesuaikan jam tangan dengan jam di Bali). Di Bali saya bertemu dengan Fanny, anaknya teman mama saya yang kebetulan agak seumuran. Asyiikk!! Ada teman!
cK dan Fanny
Sehabis itu menuju tempat penginapan. Berhubung tempat penginapannya minim kamar mandi, maka mama saya dan beberapa temannya memutuskan menyewa penginapan saja biar nggak rebutan mandi.
Setelah mendapatkan kamar, akhirnya kita beristirahat biar besok fit.
Jumat, 18 Januari 2008
Bangun pagi untuk jogging! Tapi berhubung para orang tua sedikit malas, akhirnya nggak jadi hehehe… Sekitar pukul 9 saya sarapan dan setelah itu pergi ke pasar Sukawati untuk belanja. Saya sempat bertanya kepada Joe, dimana tempat makan yang enak. Sayangnya karena mengikuti orangtua, saya tidak bisa pergi ke tempat yang direkomendasikan Joe.
Habis dari pasar Sukawati, saya dan rombongan pergi ke restoran Bebek Bengil untuk makan siang. Suasanannya enak. Terlihat sawah yang membentang dari jendela restoran Bebek Bengil.
Sehabis makan, kami mampir ke Toko Mas dan Ubud. Cuma lihat-lihat saja. Nggak belanja hehe..
Setelah muter-muter Bali, akhirnya sorenya saya dan Fanny mampir ke warnet. Warnetnya cukup murah, sayangnya koneksi dudut, setengah jam cuma bisa buka email. Buka blog pun empot-empotan. Akhirnya setelah membayar tagihan dua ribu rupiah, saya ngeloyor pergi.
Dari warnet saya kembali ke penginapan dan ganti baju untuk pergi ke Gado Gado. Sempat nyasar karena belum tahu alamat pastinya. Sudah itu hujan pula. Mana beberapa ruas jalan banjir. Ckckck…nggak beda ama di Jakarta.
Sesampai di Gado Gado, semua rombongan reuni berkumpul. Nggak ada skrinsut makanan, soalnya prasmanan. Sayangnya cuaca sedang buruk, sehingga tidak bisa menikmati makan malam di pinggir pantai. Duh!
Sabtu, 19 Januari 2007
Bangun pagi! Rencananya hari ini rombongan mau ke Benoa untuk naik kapal. Tapi hasrat masih ingin ke pasar Sukawati untuk membeli pesanan kakak saya dan beberapa teman yang nitip barang. Akhirnya mama saya yang pengertian mengajak saya ke pasar.
Supaya tidak kecewa, rombongan yang memisahkan diri ini (saya & mama serta Fanny dan mamanya) pergi ke Tanah lot yang merupakan salah satu tempat wisata di Bali. Saya banyak foto-foto hehehe…
Di Tanah Lot saya sempat pegang Holy Snake–Ular Suci. Kemudian ke mata air tawar yang berada di bawah Tanah Lot. Sempat didoakan sama Bli (panggilan untuk lelaki di Bali.red) yang bertugas disana, “Semoga adek enteng jodoh dan rezeki”. Amiiin~
menatap langit
Dari Tanah Lot, kami mampir ke Warung Made untuk makan siang. Disana ketemu sahabat temannya mama. Sempat ngobrol ama si om yang merupakan bule. Di Warung Made kita tidak berlama-lama karena kami akan check-in ke hotel baru yang lebih dekat dengan pantai, agar saya dan Fanny bisa puas bermain di pantai. Senangnyaaaa…mama memang benar-benar pengertian. ^^
Setelah check-in, saya dan Fanny bermain di pantai. Sekedar melihat sunset sekaligus mencoba skill fotografi saya.
siluet-nya Fanny
Pantai Kuta
Di pantai banyak orang yang memperhatikan kami berdua. Mungkin karena Fanny berdandan ala India. Kami pun sempat ditanya orang yang mengira Fanny dari India, sedangkan saya dari Jepang. Segitu miripnyakah saya dengan Kyoko Fukada? Ah saya jadi malu…
cK foto disaat matahari terbenam
Sehabis dari pantai kami makan malam di salah satu rumah alumni tempat kuliah mama saya. Disana disuguhi tarian bali. Makanannya pun enak-enak. ^^ *melototin perut*
Setelah makan malam, para orangtua pun berkumpul dan berkaraoke serta joged-joged. Saya memperhatikan betapa senangnya peserta reuni. Tapi karena saya mengantuk, apa daya. Saya tertidur dengan manis di sofa kekekek…
Acara selesai, dan kami pun kembali ke hotel.
Minggu, 20 Januari 2007
Hari terakhir di Bali! Entah kenapa saya merasa homesick. Kangen sama kakak, oma, papa, mbak, dan kucing! Dan tentu saja teman-teman blog. Beberapa fans saya meng-sms menanyakan kabar saya di Bali. Adik saya pun menanyakan apa saya sudah sakaw internet. Entah kenapa, tapi saya benar-benar lupa internet. Saya cuma ingin online bentar untuk ceting, tapi apa daya. Gprs di Bali kok ga bisa di hape saya. Huh.. [-(
Pagi-paginya saya jogging di pantai. Wiiih…enaknya menghirup udara laut. Sayangnya pantai di Bali kotor. Saya sempat berpikir untuk menggalakan Sehari Membersihkan Pantai (SMP). Namun karena saya hari ini hari terakhir di Bali, rasanya tak mungkin mengadakan event tersebut. Saya menyayangkan keadaan pantai yang telah kotor.
Pantai yang kotor
Dan ada pelangi! Yay! Saya pun tidak mau melewatkan moment ini. Segeralah saya mengabadikan dengan kamera. ^^
pelangi di mata cK
Sehabis dari pantai, saya sarapan all you can eat, dan kemudian kami berangkat ke Garuda Wisnu Kencana (GWK) untuk foto-foto. Disana tempatnya enak. Pemandangannya indah. Sayang cuacanya puanas! Untung sempat mendung, jadi sedikit adem.
Dari GWK, akhirnya semua rombongan menuju Bandara untuk pulang kembali ke Jakarta. Yay! Tak sabar untuk menginjak rumah. Perjalanan Bali - Jakarta ditempuh hanya dalam waktu 1 jam 20 menit, padahal di rencana seharusnya 1 jam 45 menit. Tampaknya si pilot agak ngebut hehe…tapi Alhamdulillah mendarat dengan selamat.
Kemudian saya pamit ke semua rombongan dan teman saya selama di Bali, Fanny. Uuuhh keep contact ya!
Maafkan aku peri kecil…
By: Feri A. Saputra
Hari minggu yang biasa, namun dengan pagi yang berbeda. Angin tidak bertiup, seperti diam, seperti mati, namun udara terasa sangat lembut, sejuk, membuat selimut terasa lebih hangat, memeluk erat tubuh Rina yang baru terbangun dari tidur nyenyaknya, membelai lembut kulitnya, kulit yang putih dan halus.
Rina ragu untuk bangkit, ia ingin kembali terpejam. Setelah berminggu minggu berkutat dengan ribuan lembar-lembar data dan dikejar-kejar deadline yang melelahkan, ia kini merasa lega dan bebas. Sudah lama sekali ia tidak merasa seperti ini, suasana minggu pagi bebas tanpa beban. Rina bukan tipe wanita pemalas, ia selalu bahagia menyambut pagi, penuh semangat dan gairah dalam menyiapakan rencana-rencana hidup dan kariernya, tapi tidak hari ini, tidak di pagi ini. Ia ingin terus berada di balik selimutnya.
Rina mengubah posisinya, bertumpu pada tubuh sebelah kirinya, hingga ia bisa melihat keluar, meski samar bayangan masuk memenuhi pupil matanya dan membangun obyek yang terbalik, saraf menghantarkan obyek itu ke otak, kemudian otak yang menafsiraknnya menjadi wujud yang di pahami Rina, sebuah halaman, halaman yang hijau dan berbunga, lahan tempat bunga-bunga kesayangannya tumbuh indah, tanah tempat ia biasa berdiri memandangi langit dengan takjubnya. Hanya dinding kaca yang membatasi dia dan halamannya, dinding kaca yang indah, terpola oleh butir-butir air, mengalir dari atas hingga kebawah, dinding kaca yang dingin dan basah. dinding kaca, kamar dan halaman. Ia bersyukur dirinya masih hidup dan dipersilahkan melanjutkan hidupnya.
“thanks God, for my beautiful life”
Seketika, Rina bangkit perlahan menyingkap semua kenyamanan dan kehangatan yang dirasakannya. Rina berjalan lamat-lamat mendekati dinding kaca, ia bahkan mengabaikan kebiasaan pagi harinya. Kebiasaan mengagumi rambut hitamnya yang panjang sebahu, menguncirnya atau hanya menyisirkannya dengan jemarinya yang lentik, tidak untuk kali ini Rina terpaku terdiam. Seluruh saraf dan otaknya bersamaan merangsang tubuh untuk mematung, berhenti sejenak, kemudian membiarkan indera penglihatannya mengamati sosok yang ada dibalik dinding kaca dihadapannya, dari samar menjadi jelas. Tubuhnya bergetar, hatinya bergemuruh dengan penuh kerinduan.
Rina berlari kehalaman, menyambut sosok itu. Sosok yang ia tahu, ia kenal, dan sangat dekat. Sudah lama ia tidak melihat, menyentuh, dan bermain bersamanya. Rina benar-benar rindu sentuhannya, rindu suasananya. Suasana yang terbangun dimasa lalu, sangat jelas dan sangat nyata ketika mereka pertama kali bertemu. Rina ingat betul pertama kali menyentuh sosok ini. Jantungnya berdebar kencang, darahnya mengalir deras keseluruh tubuhnya, ia tidak mampu menahan guncangan yang dirasakan dari dalam tubuhnya sendiri. Rasa kagum, bingung dan gembira tumpah ruah bercampur di hatinya saat itu. Dan setelahnya Rina selalu ingin bermain bersama, bercanda, tertawa, berguling gembira, membiarkan kaki-kakinya di kelitiki, membiarkan wajahnya disentuh lembut dan sejuk.
Berhari-hari diawal pertemuannya ia bahagia sekali, setiap memandang sosok itu senyumnya selalu mengembang, hatinya ingin selalu mendendangkan lagu untuk sosok mungil ini. Rasa sakit yang timbul dan pertaruhan nyawa untuk dapat menghadirkan sosok manis imut yang kini ada dalam pangkuannya ini sudah hampir dilupakan, ia bahagia ia punya peri kecil, darah dagingnya sendiri.
Semakin hari peri kecilnya semakin tumbuh, kini peri itu tidak hanya terdiam dipangkuannya namun kini peri itu bisa menari dan berputar-putar, bernyanyi mengikuti arah angin, berhitung dengan sempurna meski hanya satu-dua-tiga. Rambut ikal yang hitam sempurna menghiasi di wajah bulatnya yang cantik, kulit putihnya menambah sempurna tampilannya, gerak-geriknya, tingkah polahnya membuat semua yang melihatnya pasti tersenyum. Rina bangga kecantikan dan kecerdasannya menitis padanya.
Sebagai ibu muda, Rina siap mengorbankan apa saja demi putri pertamanya. Ia mempersiapkan semua peralatan makan, pakaian dan perlengkapan peri kecilnya untuk belajar di play group, bahkan ia telah merencanakan akan seperti apa peri kecilnya nanti ketika dewasa. Untuk itu ia rela bekerja keras dan menerima banyak proyek besar dari kantornya.
”aku harus banyak menabung demi masa depan anakku” batinnya berapi-api.
Semangat itu yang menjadi kayu bakar dirinya menjalankan semua tugas dikantornya, ia banting-tulang, lari tunggang langgang mengejar deadline. Rina mengurangi porsi belanja bersama temannya bahkan ia merelakan suami tercintanya pergi sendiri ke acara konser band kesayangannya.
”maafkan aku sayang aku banyak kerjaan” rayunya pada sang suami.
Namun tanpa disadari, bukan hanya teman belanjanya yang ia lupakan atau nonton konser bareng bersama suaminya yang terabaikan, dengan kerja kerasnya ia juga melupakan peri kecil yang menjadi alasan utamanya. Deadline yang menghantuinya, seakan lebih menakutkan. Semua konsentrasi dicurahkan pada pekerjaannya, ia tidak perduli, akan tarian peri kecilnya di sampingnya, ia tidak perduli hingga sang peri berputar dan jatuh terduduk. Es krim yang tadi ada di dalam genggaman sang peri terlontar dan jatuh di atas meja kerja Rina. Mengotori selembar kertas putih berisikan print out kerja Rina dalam sebulan.
Tubuhnya geram melihat hal itu, wajahnya menjadi bengis dan seperti kerasukan setan ia berteriak keras, ”Aaaa...kkhh! kamu kenapa main disini Lana” bentaknya keras. Lana peri kecil itu kaget, tubuh kecil itu tersentak mendengar teriakan ibunya. Lana menangis sesenggukan dan pergi menghampiri ayahnya yang baru saja tiba di ruangan itu. ”Rin, kamu apa-apan sich!” tegur suami rina yang kemudian pergi bersama Lana meninggalkan Rina dengan pekerjaannnya. Rina hanya terduduk lemas, ia menunduk dan menutup wajah dengan tangan halusnya.
Perlahan, Rina merasakan sentuhan yang sama diwajahnya, di dahinya, ditulang pipinya, kemudian dibibirnya. Sentuhan yang membuatnya tersadar, kembali pada kenyataan bahwa ia tidak perduli, ia terlalu sibuk dengan sahabat-sahabat fiktifnya, jurnal-jurnal, tinta-tinta dari pulpen-pulpennya, keyboard, monitor, dan folder-folder. Rina tidak sadar kalau didunianya ada peri kecil di dekatnya. Peri yang sangat dicintainya, yang memberi senyuman tulus bahagia ketika semua orang kantor memberinya senyuman sinis, iri dan mencaci. Peri yang dicintainya, yang selalu bertanya dengan lucu dan polos ketika orang lain menggerutu tentang turunnya hujan. Peri yang dicintainya, yang diabaikan hanya karena tugas dari managernya, yang dilupakan karena deadline yang menekan tiap menitnya, yang dibuatnya menangis semalaman karena menumpahkan es krim pada selembar kertas yang siap dibawanya kekantor.
Hingga sentuhan itu datang, hari ini, masih di pagi ini
Angin kini bertiup, seperti hidup, dan bernyanyi.
Angin seolah membawakan setumpuk rasa kebahagiaan, angin pula yang membisikan kabar bahwa perinya tidak marah, tetap polos, cantik, dan selalu gembira. Tanpa sadar Rina terduduk di rerumputan halaman.
”Mama Sayang, Lana sudah bangun nich..”
”Tapi rumputnya basah sayang..”
”Tak apa.. biar aja.. Lana kenalin mama sama embun, dingin ya”
”Iya dingin?”
Read More..
